Tampilkan postingan dengan label maskulinisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maskulinisasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Proses Maskulinisasi Ikan Guppy Menggunakan Ekstrak Testis Sapi

https://www.google.co.id
Ikan guppy bersifat gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda yang pada tahap awal perkembangan tidak memiliki jaringan gonad yang jelas. Sehingga dapat dilakukan pengarahan kelamin pada fase embriogenesis dan larva. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh dalam pengarahan kelamin yaitu suhu. Pada suhu yang tinggi kadar testosteron dalam tubuh meningkat. Disamping itu, pengarahan kelamin juga dapat menggunakan bahan alami seperti ekstrak testis sapi (ETS) yang mengandung metiltestosteron. Ekstrak testis sapi mampu menjadi bahan alternatif pengganti bahan sintetis seperti 17α-metiltestosteron, yang terbukti berbahaya bagi mahluk hidup maupun lingkungan. Ekstrak testis sapi dapat meningkatkan level androgen dalam darah sehingga kadar testosteron di dalam tubuh lebih tinggi daripada estradiol. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh suhu, dosis ekstrak testis sapi, dan interaksinya serta menentukan perlakuan terbaik dalam produksi ikan guppy jantan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RAL Faktorial) dengan 4 perlakuan dosis ETS (0, 5, 10, 15 ppm), 2 perlakuan suhu (27 dan 30°C), dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut diberikan dengan merendam induk betina yang sedang bunting selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis ETS memberikan pengaruh yang berbeda terhadap produksi ikan gupy jantan (P<0,05). Namun, suhu dan interaksi (ETS; T) tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap produksi ikan guppy jantan (P>0,05). Perlakuan terbaik adalah interaksi dosis ETS dan suhu (5 ppm; 30°C) dengan persentase jantan sebesar 63,10±12,16% dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 70,13±19,45%. Interaksi antara suhu dan ekstrak testis sapi tidak menyebabkan terbentuknya individu interseks.



Mau Praktek Maskulinisasi Ikan Guppy? Coba Pake Madu Deh

https://www.google.co.id
Umumnya maskulinisasi menggunakan hormon 17α-metiltestosteron. Penggunaan hormon membutuhkan biaya mahal dan berbahaya, karena dapat mencemari lingkungan serta menimbulkan penyakit kanker. Hal tersebut mengakibatkan perlunya bahan alami yang dapat menggantikan hormon dalam proses maskulinisasi, salah satunya madu. Madu merupakan bahan alami yang didalamnya terdapat senyawa aromatase inhibitor alami berupa chrysin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis perendaman madu yang optimum untuk pengarahan kelamin ikan guppy menjadi jantan. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Metode perendaman induk ikan guppy dalam madu selama 15 jam pada dosis perlakuan 0 ml/l (kontrol), 25 ml/l, 50 ml/l, dan 75 ml/l. Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan ciri kelamin sekunder pada anakan ikan guppy yang berumur dua bulan. Hasil pengamatan diuji dengan analisis ragam, beda nyata terkecil (BNT) dan uji dua proporsi pada selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis madu berpengaruh terhadap persentase ikan guppy berjenis kelamin jantan dengan nilai tertinggi pada dosis 50 ml/l dengan persentase jantan 64,07±9,71%. Berdasarkan uji BNT diketahui perlakuan dosis 25 ml/l, 50 ml/l, dan 75 ml/l memberikan respon yang berbeda dari kontrol. Tetapi, tidak berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan uji proporsi menunjukkan bahwa dosis 50 ml/l memiliki proporsi jantan yang lebih tinggi dari kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dosis perendaman madu yang optimum dalam produksi ikan guppy jantan adalah 50 ml/l.